Sabtu, 15 September 2018

Jurnal Kesehatan Masyarakat

EVALUASI IMPLEMENTASI PROGRAM SEKOLAH DASAR BERSIH
DAN SEHAT DI KOTA PALU
Hermiyanty1
, Lusia Salmawati2
, Fandi Oktavian1
1.Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan, Universitas Tadulako
2.Bagian Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Sekolah Dasar Bersih Sehat (SDBS) adalah Sekolah Dasar yang warganya secara terus-
menerus membudayakan PHBS, dan memiliki lingkungan sekolah yang bersih, indah,
sejuk, segar, rapih, tertib, dan aman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi
implementasi program SDBS di Kota Palu di nilai dari aspek input yang berkaitan
dengan pemanfaatan SDM, dana dan fasilitas/sarana, mengevaluasi implementasi
program SDBS di Kota Palu di nilai dari aspek proses yaitu plaining, organizing,
actuating, controling, mengevaluasi implementasi program SDBS di Kota Palu di nilai
dari aspek output yaitu hasil yang dicapai dari pelaksanakan program SDBS. Jenis
penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Jumlah informan
adalah tujuh orang terdiri dari tiga informan kunci, satu informan biasa dan tiga
informan tambahan. Analisis data menggunakan analisa isi (content analysis) dengan
teknik matriks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek input untuk kinerja
SDM dilapangan sudah baik. Dana yang diperoleh dari BANSOS. Process menunjukan
bahwa semua kegiatan yang dilakukan sudah berjalan dengan cukup baik dan kerja
sama yang dibangun antar pihak penyelenggara program dengan penangung jawab
program serta warga sekolah sudah baik, dari output terlihat perubahan PHBS siswa
yang lebih baik. Disarankan agar dana yang diperoleh dapat digunakan dengan
memprioritaskan kegiatan/kebutuhan yang bisa dipenuhi terlebih dahulu dengan dana
yang telah tersedia.
Kata Kunci: Evaluasi, Implementasi, Sekolah Dasar.

A. PENDAHULUAN
Direktorat Pembinaan Sekolah
Dasar mengeluarkan kebijakan pokok
diantaranya adalah Rekonstruksi
sekolah dasar yang baik secara sistemik
dan sistematik. Salah satu interpretasi
dalam konstruksi tersebut adalah pada
bidang pendidikan dan tenaga
kependidikan tentang budaya sekolah
yang kondusif yang digerakkan melalui
Bimbingan Teknis (Bimtek) Sekolah
Dasar Bersih dan Sehat.
[1]
Sekolah Dasar Bersih Sehat adalah
Sekolah Dasar yang warganya secara
terus-menerus membudayakan perilaku
hidup bersih dan sehat, dan memiliki
lingkungan sekolah yang bersih, indah,
sejuk, segar, rapih, tertib, dan aman.
Sekolah Dasar Bersih Sehat
mengutamakan pentingnya
pembangunan kesehatan melalui
kegiatan yang bersifat promotif dan
preventif, sehingga dapat mendorong
kemandirian semua warga sekolah dan
masyarakat di lingkungan sekolah untuk
berperilaku hidup sehat, memelihara
kesehatannya, dan meningkatkan
kesehatan di lingkunganya.
[1]
Warga sekolah meliputi setiap
individu yang berperan di dalam proses
belajar-mengajar di sekolah, antara lain,
peserta didik, pendidik, dan tenaga
kependidikan yang melaksanakan tugas
pokok dan fungsinya pembelajar.
Masyarakat lingkungan sekolah
meliputi semua masyarakat yang berada
di lingkungan sekolah selain warga
sekolah. Perilaku hidup bersih dan sehat
warga sekolah dilaksanakan atas dasar
keinginan dan kesadaran sebagai hasil
pembelajaran, sehingga warga sekolah
mampu melakukan kegiatan sendiri di
bidang kesehatan serta dapat berperan
aktif dalam mewujudkan kesehatan
masyarakat.[1]
Sekolah merupakan institusi formal
dan strategis dalam menyiapkan sumber
daya manusia yang sehat secara fisik,
mental, sosial, dan produktif. Salah satu
yang mempengaruhi keberhasilan
proses belajar mengajar di sekolah
adalah status kesehatan dan kondisi
lingkungan sekolah. Upaya
mewujudkan Sekolah Dasar Bersih dan
Sehat dapat dicapai melalui strategi
penyediaan sarana dan prasarana,
manajemen yang baik, penyebarluasan
pengetahuan, penciptaan kondisi ideal
dengan melibatkan partisipasi semua
pihak seperti Warga Sekolah, Komite
Sekolah, Puskesmas, dan Masyarakat.[1]
Strategi tersebut dilaksanakan
dengan menyelenggarakan pendidikan
kesehatan, pelayanan kesehatan,
kebersihan dan kesehatan lingkungan,
serta pembudayaan perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS). Indikator
PHBS di sekolah meliputi jajan di
kantin sekolah, mencuci tangan dengan
air bersih yang mengalir dan sabun,
buang air kecil dan buang air besar di
jamban sekolah serta menyiram jamban
dengan air setelah di gunakan,
mengikuti kegiatan olahraga dan
aktivitas fisik di sekolah, memberantas
jentik nyamuk disekolah secara rutin,
tidak merokok di sekolah, menimbang
berat badan dan mengukur tinggi badan
setiap bulan, membuang sampah pada
tempatnya.
[1]
Berdasarkan Riskesdas (2013)
diketahui bahwa masalah gizi usia
sekolah 6-12 tahun masih besar, yaitu
terdapat 35,6% anak pendek, 12,2%anak kurus, dan 9,2% anak gemuk.
Masalah lain yang ditemukan adalah
44,6% anak usia sekolah mengonsumsi
sarapan berkualitas rendah. Dilaporkan
juga bahwa 1,7% anak mulai merokok
pada anak usia 5-9 tahun dan 17,5%
pada usia 10-14 tahun. Selain itu,
persentase menyikat gigi setiap hari
pada kelompok umur 10-14 tahun
adalah sebesar 95,7%, namun yang
berperilaku benar menyikat gigi hanya
1,7%.
[2]
Guna mencegah dan mengurangi
berbagai permasalahan di atas
diperlukan perilaku hidup bersih dan
sehat melalui pengembangan pola hidup
bersih dan sehat di Sekolah. Upaya
tersebut tidak hanya mengandalkan
proses belajar mengajar pendidikan
jasmani, olahraga, dan kesehatan, tetapi
perlu didukung oleh kebijakan, sarana
dan prasarana, serta program yang tepat
sehingga perilaku hidup bersih dan
sehat akan menjadi budaya di kalangan
warga sekolah. Sebagai lingkungan
terkecil yang mempunyai otoritas dalam
mengelola dirinya sendiri, sekolah
mempunyai peran yang penting dalam
memberikan pembelajaran di segala
bidang bagi warga sekolah dan
lingkungan sekitar. Peserta didik,
sebagai agen perubahan, diharapkan
dapat membawa pengaruh positif
kepada keluarga mengenai perilaku
hidup bersih dan sehat yang mereka
dapatkan di sekolah.
[1]
Dalam melaksanakan kegiatan
tersebut setiap sekolah memiliki visi,
misi, tujuan yang mendukung
pelaksanaan SD Bersih Sehat. Visi,
misi, dan tujuan sekolah dituangkan
dalam rencana kegiatan, pelaksanaan
kegiatan, dan rencana anggaran yang
melibatkan peran serta aktif dari seluruh
warga sekolah dan komite sekolah.
Perlu dilakukan pemantauan dan
evaluasi atas rencana dan pelaksanaan
kegiatan untuk dijadikan dasar kegiatan.
Dalam perencanaan program terkait
Sekolah Dasar Bersih Sehat, sekolah
memperhatikan aspek pendidikan
kesehatan, pelayanan kesehatan, dan
pembinaan lingkungan sekolah sehat
serta mempertimbangkan dan
memaksimalkan ketersediaan sumber
daya. Kegiatan Sekolah Dasar Bersih
dan Sehat ini adalah memberikan
informasi dan solusi untuk menjawab
berbagai permasalahan dan hambatan
yang muncul. Dengan begitu, sekolah
dapat menumbuhkan pembiasaan
perilaku hidup bersih dan sehat pada
setiap warga sekolah.
[1]
Berdasarkan hasil observasi awal
yang di lakukan di sekolah dasar yang
melaksanakan Program Sekolah Dasar
Bersih Dan Sehat yakni SDN Inpres 1
Birobuli, SDN 3 Lambara dan SDN
Model Terpadu Madani bahwa program
sekolah dasar bersih dan sehat telah
terlaksana, namun masih mengalami
kendala dalam menjalankan program
SDBS, sehingga peneliti tertarik untuk
meneliti tentang program sekolah dasar
bersih dan sehat.[1]
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dimana peneliti menentukan
informan secara purposive sampling.
Metode penelitian ini digunakan untuk
mengetahui terjadinya suatu aspek
fenomenal sosial tertentu dan
mendeskripsikan fenomena sosialtertentu. Pada penelitian ini, peneliti
mengembangkan konsep dan
menghimpun fakta, tetapi tidak
melakukan pengujian hipotesa.
Penelitian ini dilakukan Di Kota Palu,
penelitian dilakukan pada bulan Juli –
Agustus 2015. Informan dalam
penelitian ini sebanyak 7 orang, yang
terdiri dari 3 informan kunci yaitu
Kepala Sekolah SDN Terpadu Madani,
Penangung Jawab Program SDBS SDN
1 Inpres Birobuli, Penangung Jawab
Program SDBS SDN 3 Lambara, 1
informan biasa yaitu Kepala Bidang
Pendidikan Dasar dan Menengah, dan 3
informan tambahan yaitu tenaga
pendidik yang berada di tiga sekolah
yang menjalankan program SDBS.
Informan seluruhnya berdomisili di
Kota Palu.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Aspek Input
Input berkaitan dengan
pemanfaatan berbagi Sumber Daya,
baik Sumber Daya Manusia, dana dan
fasilitas/sarana. Evaluasi ini bertujuan
untuk mengetahui apakah sumber daya
yang dimanfaatkan sudah sesuai dengan
standar dan kebutuhan dalam
pelaksanaan Program Sekolah Dasar
Bersih Dan Sehat (SDBS). Berdasarkan
penelitian yang di lakukan dalam
evaluasi implementasi program sekolah
dasar bersih dan sehat yang dilakukan di
Kota Palu khususnya di SDN 1 Inpres
Birobuli, SDN 3 Lambara dan SDN
Model Terpadu Madani.
Kerjasama dilakukan oleh Sekolah
yang menjalankan program SDBS
dengan Dinas Pendidikan Kota Palu,
semua pihak yang terlibat dalam kerja
sama tersebut memiliki tugas dan
tanggung jawab masing-masing yang
berbeda-beda. Kerjasama yang
dilakukan Dinas Pendidikan Kota Palu
yakni memfasilitasi dan mengadakan
pelatihan, mengadakan pemantauan ke
lapangan, serta memberikan dorongan
pada pihak sekolah untuk menjalankan
program SDBS dengan baik. menerima
hasil laporan pertanggung jawaban
program. Sumber daya manusia
tersebut saat ini kemampuannya sudah
cukup baik dalam melaksanakan
program, semua sumber daya manusia
senantiasa dibekali dengan kemampuan
untuk melaksanakan tanggung
jawabnya. Komunikasi mereka juga
sudah baik terbukti dengan kerja sama
yang baik yang dibangun dilapangan
yang menyebabkan suasana kegiatan
lebih hidup, seperti unsur-unsur yang
terlibat dalam pelaksanaan program
SDBS di sekolah setiap hari sabtu
mengadakan kerja bakti untuk menjaga
lingkungan agar tetap bersih.
Penelitian ini sejalan dengan
Tachjan (2010) yang menyatakan
bahwa dimana sumber daya diposisikan
sebagai input dalam organisasi sebagai
suatu sistem yang mempunyai implikasi
yang bersifat ekonomis dan teknologis.
Secara ekonomis, sumber daya bertalian
dengan biaya atau pengorbanan
langsung yang dikeluarkan oleh
organisasi yang merefleksikan nilai atau
kegunaan potensial dalam
transformasinya ke dalam output.
[3]
Dana merupakan faktor dasar
apakah suatu program bisa berjalan atau
tidak. Tanpa adanya anggaran maka
dipastikan suatu pogram tidak dapat
dijalankan sesuai yang diharapkan.Akibatnya mungkin sasaran dari tujuan
program belum dapat mencapai target
maksimal dan hanya sekedar berjalan
saja. Dana yang terbatas membuat
sekolah yang menjalankan program
harus lebih bijak dalam penggunaan
dana dengan membuat skala prioritas.
Kegiatan yang menjadi prioritas dan
mendesak akan didahulukan. Dana yang
terbatas menuntut penangung jawab
program SDBS di sekolah untuk lebih
cermat membagi kedalam program yang
akan dibiayai. Sekolah dasar bersih dan
sehat merupakan sekolah yang
warganya secara terus menerus
memberdayakan perilaku hidup bersih
dan sehat, memiliki lingkungan sekolah
yang bersih, indah, sejuk, segar, rapih,
tertib dan aman. Penelitian ini sejalan
dengan Ahmad (2013) yang
menyatakan bahwa keberhasilan
pencapaian suatu program dipengaruhi
oleh ketersedian dana.[4]
Fasilitas/sarana adalah segala
sesuatu yang berupa benda atau yang
dapat dibendakan, yang mempunyai
peranan dapat memudahkan dan
melancarkan suatu usaha. Fasilitas fisik
dapat disebut juga dengan fasilitas
materiil. Karena fasilitas ini dapat
memberi kemudahan dan kelancaran
bagi suatu usaha dan biasanya
diperlukan sebelum suatu kegiatan
berlangsung maka dapat pula disebut
sebagai saran materil. Hasil penelitian
yang peneliti lakukan menunjukkan
bahwa fasilitas/sarana yang menjadi
salah satu indikator program sekolah
dasar bersih dan sehat hampir semuanya
memadai. Akan tetapi hal ini tidak
menutupi bahwa masih ada kekurangan
yang dialami sekolah yang menjalankan
program sekolah dasar bersih dan sehat
dalam masalah penyediaan
fasilitas/sarana secara maksimal, contoh
dari 3 sekolah yang menjalankan
program sekolah dasar bersih dan sehat
2 sekolah sudah mengalami kerusakan
fasilitas/sarana kebersihan yakni salah
satunya adalah washtafel. Penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Handayani (2008)
dimana fasilitas/sarana di posisikan
sebagai faktor pendukung untuk
keberhasilan suatu program.[5]
Aspek Process
Hasil penelitian di lapangan,
peneliti menemukan hasil bahwa semua
kegiatan yang dilakukan sudah berjalan
dengan cukup baik dan kerja sama yang
dibangun antara pihak penyelenggara
program dengan penangung jawab
program serta warga sekolah sudah
baik, hanya saja yang menjadi kendala
untuk menjalankan program dengan
maksimal adalah dana yang ada belum
mencukupi untuk memenuhi semua
indikator.
Salah satu kegiatan yang
dilakukan untuk menunjang program
sekolah dasar bersih dan sehat adalah
dengan melakukan kegiatan opersional
seperti mengadakan kegiatan sabtu
bersih, sabtu bersih merupakan kerja
bakti yang dilakukan oleh semua warga
sekolah untuk menjaga lingkungan agar
tetap bersih dan sehat serta menjaga
fasilitas/sarana program sekolah dasar
bersih dan sehat.
Hasil wawancara pada informan
mengemukakan bahwa kerja sama
informan dengan teman-teman rekan
dewan guru dan pihak Dinas Pendidikan
Kota Palu sudah dibangun sangat baikdan dengan sudah dengan baik
terlaksananya program dan terjadi
perubahan perilaku yang lebih baik pada
warga sekolah terutama pada siswa di
bandingkan dengan sebelumnya ada
program sekolah dasar bersih dan sehat
sekarang menjadi lebih baik. Bahkan
respon warga sekolah juga sangat baik
ketika mereka mengetahui bahwa
sekolah mereka ditunjuk sebagai
pelaksana program sekolah dasar bersih
dan sehat di Kota Palu.
Kendala yang ditemukan
dilapangan adalah merubah prilaku agar
berprilaku hidup bersih dan sehat anak-
anak pada usia 6-10 tahun tidaklah
mudah karena dibutuhkan kesabaran
serta metode khusus untuk melakukan
pendekatan pada anak-anak untuk bisa
merubah prilaku mereka dan mau
menjaga fasilitas/sarana kebersihan
indikator program sekolah dasar bersih
dan sehat agar selalu bisa mereka
gunakan dengan baik tanpa mereka
merusaknya.
Penjelasan-penjelasan seputar
proses kegiatan evaluasi diatas tidak
sama dengan teori yang dikemukakan
oleh Azwar (2010) yang mengatakan
bahwa proses merupakan kumpulan
bagian elemen yang terdapat dalam
sistem dan yang berfungsi untuk
mengubah masukan menjadi keluaran
yang direncanakan, mencakup
perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan dan penilaian. Hal ini
dikarenakan masih ada kendala dalam
pelaksanaan kegiatan yang tidak sesuai
dengan POAC.[6]
Aspek Output
Hasil wawancara yang peneliti
lakukan kepada informan UN, NA,
DCA dan FC semuanya mengatakan
bahwa pengunaan fasilitas/sarana
program sekolah dasar bersih dan sehat
sudah baik dan perubahan prilaku siswa
juga sudah lebih baik dibandingkan
dengan sebelum adanya program
sekolah dasar bersih dan sehat.
Kesadaran warga sekolah untuk hidup
bersih dan sehat juga bertambah terbukti
dengan hasil wawancara yang peneliti
lakukan kepada informan SR, DD dan
HT yang sudah paham dengan selalu
mengunakan fasilitas/sarana kebersihan
serta mengarahkan siswa untuk
berprilaku hidup bersih sehat dan selalu
menjaga lingkungan agar selalu indah,
bersih dan nyaman.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ryan
(2013) dimana perilaku hidup bersih
dan sehat adalah upaya untuk
memberikan pengalaman belajar atau
menciptakan suatu kondisi bagi
perorangan, keluarga, kelompok, dan
masyarakat, dengan membuka jalur
komunikasi, memberikan informasi, dan
melakukan edukasi untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap, dan perilaku
melalui pendekatan pimpinan
(advokasi), bina suasana (social
support), dan pemberdayaan masyarakat
(empowerment) sebagai suatu upaya
untuk membantu masyarakat mengenali
dan mengetahui masalahnya sendiri,
dalam tatanan rumah tangga, agar dapat
menerapkan cara-cara hidup sehat
dalam rangka menjaga, memelihara, dan
meningkatkan kesehatannya.
[7]
Evaluasi Implementasi Program
Sekolah Dasar Bersih Dan Sehat Di
Kota PaluBerdasarkan hasil wawancara
mendalam yang peneliti lakukan dari ke
tujuh informan, menunjukkan bahwa
program sekolah dasar bersih dan sehat
di Kota Palu belum sepenuhnya berhasil
karena belum bisa memenuhi semua
indikator yang ada , hal ini disebabkan
oleh dana yang diberikan belum
mencukupi. Namun untuk perubahan
perilaku sudah ada perubahan yang
lebih baik terutama pada peserta didik.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan yang dapat ditarik dari
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sumber daya manusia yang terlibat
dalam kegiatan program sekolah
dasar bersih dan sehat di kota Palu
sudah baik dengan sudah
diadakannya pelatihan guna
menjalankan program dengan tepat
sasaran dilapangan.
2. Dana yang diterima oleh Sekolah
Dasar Negeri Inpres 1 Birobuli,
Sekolah Dasar Negeri 3 Lambara
dan Sekolah Dasar Negeri Model
Terpadu Madani semuanya belum
mencukupi untuk menjadikan
program yang dilakukan berjalan
maksimal dan mencapai target.
3. Fasilitas/sarana kebersihan yang
menjadi indikator program sekolah
dasar bersih dan sehat
keberadaannya belum maksimal,
masih ada kendala untuk
memaksimalkannya.
4. Proses pelaksanaan kegiatan belum
sepenuhnya berjalan sesuai dengan
POAC karena masih ada beberapa
kendala yang ditemukan dilapangan
dari pihak pelaksana.
5. Program/kegiatan yang dilakukan di
sekolah dasar yang menjalankan
program belum sepenuhnya berhasil
terbukti bahwa belum semua
indikator program sekolah dasar
bersih dan sehat terpenuhi,
walaupun sudah ada yang terpenuhi
namun belum bisa secara maksimal.
Adapun beberapa saran yang dapat
peneliti berikan sesuai dengan hasil
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Disarankan agar dana yang diperoleh
dapat digunakan dengan
memprioritaskan kegiatan/kebutuhan
yang bisa dipenuhi terlebih dahulu
dengan dana yang telah tersedia.
2. Sebaiknya Dinas Pendidikan Kota
memiliki tim evaluasi khusus yang
bisa memberikan masukan tentang
kekurangan program mereka
sehingga pihak sekolah bisa lebih
meningkatkan lagi kinerja mereka.
DAFTAR PUSTAKA
1. Yudi, Masrani. 2014. Panduan
Pelaksanaan Pembinaan Sekolah
Dasar Bersih Dan Sehat (SD Bersih
Sehat). Kementrian Pendidikan Dan
Kebudayaan Direktorat Jendral
Pendidikan Dasar Direktorat
Pembinaan Sekolah Dasar
2. Departemen Kesehatan, RI. 2013.
Riset Kesehatan Dasar, Laporan
Nasional Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan, Jakarta.
3. Tachjan. 2010. Implementasi
Kebijakan Publik. AIPI Bandung-
Puslit KP2W Lemlit Unpad,
Bandung.4. Ahmad, Asiah Hamzah dan Ida
Leida Maria. 2013. Pelaksanaan
Program Jaminan Persalinan
(Jampersal) Di Dinas Kesehatan
Kabupaten Buol. Jurnal AKK, Vol.
2, No 2. FKM UNHAS.
5. Lina Handayani, 2008. Evaluasi
Program Pemberian Makanan
Tambahan Anak Balita. FKM
Universitas Ahmad Dahlan,
Yogyakarta
6. Azwar .A. 2010. Pengantar
Administrasi Kesehatan. Binarupa
Aksara Publisher, Tangerang
7. Ryan Kendi, 2013. Pengaruh
Pendidikan Kesehatan Terhadap
Perubahan Pengetahuan, Sikap Dan
Perilaku Tentang Kebiasaan
Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat
Siswa Sdn 1 Mandong. FIK
Universitas Muhamadiyah,
Surakarta


Hermyanty dkk. 2016. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Palu : Jurnal Preventif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar